
"Dia (Jamaluddin) dikarunia dua anak, yakni Rahmawati (9) dan Alib (6)," ujar Mardianah, Kamis (5/5/2016).
Mardianah mengungkapkan, rumah tangga Jamaluddin bersama Salma tak berjalan awet. Pada 2010, mereka bercerai karena Salma tak tahan dengan perilaku Jamaluddin yang suka berlaku kasar.
"Salma memilih pergi dan menikah lagi. Sedangkan, kedua anaknya diambil oleh pelaku dan diasuh oleh neneknya, Daeng Te'ne yang merupakan ibu kandung pelaku," kata Mardianah.
Pasca-perceraian itu, lanjut Mardianah, perilaku lelaki yang berprofesi sebagai buruh itu mulai aneh. Keluarga sempat membawanya ke RS Dadi di Jalan Lanto Daeng Pasewang, Makassar, tempat perawatan gangguan kejiwaan.
"Empat tahun lalu dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa, RS Dadi. Tapi hanya beberapa bulan di dalam, ia (Jamaluddin) kabur dari rumah sakit itu dan kembali ke rumahnya," ucap Mardianah.
Selepas perawatan kejiwaan itu, kondisi Jamaluddin tampak baik. Ia kembali bekerja menjadi buruh bangunan dan mengumpulkan uang hasil kerjanya untuk bekal merantau ke Malaysia.
"Tahun 2014, dia pergi merantau di Malaysia. Hanya setahun di sana, ia kembali ke Makassar tahun 2015. Kemudian meneruskan kembali jadi buruh bangunan di sini," ujar Mardianah.
Lima bulan setelah dari Malaysia, Jamaluddin menikah kedua kalinya. Ia menikah dengan Hasnah. Namun karena sering main tangan, usia rumah tangga Jamaluddin hanya berlangsung sekitar lima bulan. Hasnah memilih kabur dari rumah dan memilih kembali ke keluarganya di Kabupaten Takalar, Sulsel.
"Di situlah perilaku Jamaluddin mulai menjadi-jadi, ia mulai berbuat yang aneh-aneh. Dua hari sebelum kejadian, Ia datang mengambil korban (Alib) dari rumah neneknya dan mengajak korban menemaninya tinggal bersama di rumahnya (TKP)," ucap Mardianah.
Karena gelisah dan khawatir dengan kondisi Alib, ia mengajak warga melihat kondisi korban di rumah pelaku. "Dan firasatku betul, saya dan warga melihat ceceran darah di halaman rumah pelaku dan menemukan korban berada di atas ranjang tidur terbungkus selimut dalam kondisi tak bernyawa dan luka menganga pada kepalanya," ujar Mardianah.
Dugaan Mardianah, pelaku membantai korban kemudian menyembunyikannya di rumah adik pelaku, Anjas, yang berada di belakang rumah. Anjas memang sengaja meninggalkan rumah karena takut dengan Jamaluddin.
"Korban ditemukan tewas di rumah Anjas yang kebetulan letaknya di belakang rumah pelaku. Anjas sejak lama meninggalkan rumahnya karena takut dengan pelaku," kata Mardianah.
0 Komentar untuk "Ayah Pembanting Anak Kandung Sempat Jadi Pasien Rumah Sakit Jiwa"